Rabu, 30 Mei 2012

PTK

Makalah OBJEK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Dosen Pembimbing: H. Bisri Musthofa, M.Pd
Disusun Oleh: Evi Muzaiyidah Bukhori (09330090) JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS HUMANIORA DAN BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG MALANG, 2012 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bukanlah sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Bahkan saat ini untuk kenaikan pangkat guru PNS harus melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terlebih dahulu. Penelitian yang seharusnya menjadi kewajiban seorang pengajar terkadang menjadi hal yang menakutkan. Banyak para pendidik yang menganggap Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang sangat rumit, yang harus dilakukan dengan beberapa siklus, begitu juga harus melakukan tindakan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada proses belajar mengajar. Bahwasanya dengan adanya penelitian tindakan kelas dapat mengetahui semua masalah yang ada pada ruang belajar, dimana ruang belajar tersebut tidak harus berupa ruangan kelas akan tetapi adanya kegiatan proses belajar antara guru dan siswa, dengan adanya penelitian tindakan kelas diperlukan untuk kajian tentang objek penelitian tindakan kelas, yang mana merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktifitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Dengan demikian objek pengamatan dalam penelitian tindakan kelas tidak harus selalu ketika proses pembelajaran sedang berlangsung, akan tetapi bisa dilakukan ketika mereka sedang di luar kelas. Karena kelas bukan ruang melainkan sekelompok siswa, jadi bisa dilakukan penelitian tindakan kelas kapanpun. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari objek penelitian tindakan kelas ? 2. Apa sajakah yang ada dari objek penelitian tindakan kelas ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian dari objek penelitian tindakan kelas 2. Dan untuk mengetahui apa yang ada pada objek dari penelitian tindakan kelas itu sendiri. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Objek Penelitian Tindakan Kelas Secara bahasa objek bisa diartikan sebagai hal, perkara, ataiu orang yang menjadi pokok pembicaraan atau hal yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan. menurut kamus besar ilmiah adalah benda, sasaran, tujuan, hal yang menjadi pokok masalah . Sedangkan menurut kamus besar Indonesia Sedangkan kajian adalah hasil mengkaji. Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui hasil tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. B. Objek Tindakan Kelas Kegiatan belajar mengajar tidak mungkin terjadi hanya semata-mata karena ada Unsur siswa dan guru. Kegiatan yang mereka lakuikan tentu didasarkan padab tujuan tertentu yang telah ditetapkan dan untuk mencapai tujuan itu diperlukan sejumlah komponen pembelajaran lainnya. Guru dan siapapun yang terlibat dalam proses pembelajaran harus memandang sesuatu selalu dalam keseluruhan dan dalam kaitan dengan Unsur lain. Komponen-komponen dari sebuah kelas adalah 1) siswa, 2) guru, 3) materi pelajaran, 4) media pembelajaran, 5) lingkungan pembelajaran 6) managemen sekolah, 7) hasil belajar. Dengan demikian objek pengamatan dalam penelitian tindakan kelas tidak harus selalu ketika proses pembelajaran sedang berlangsung. Karena kelas bukan ruang melainkan sekelompok siswa. Sesuai dengan prinsip, bahwa tindakana dirancang sebelumnya, objek penelitian tindakan kelas harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktifitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Menurut suharsimi arikunto (2006) objek penelitian tindakan kelas meliputi hal berikut: 1) Unsur siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang mengikuti proses pembelajaran dikelas atau nlapangan atau laboratorium atau bengkel, maupun sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah dengan serius, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bakti diluar sekolah. 2) Unsur guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar dikelas, khususnya cara guru member bantuan kepada siswa, ketika sedang membimbing siswa yang sedang berdarmawisata, atau sedang mengadakan kunjungan kerumah siswa. 3) Unsur materi pelajaran, dapat dicermati dalam GBPP dan yang sudah dikembangkan dalam rencana tahunan, rencana semesteran, dan analisis materi pelajaran. lebih lanjut dapat dilihat dari materi yang tertulis dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan khususnya materi yang disajikan kepada siswa meliputi pengorganisasian, urutan, cara penyajian, atau pengaturannya. 4) Unsur peralatan atau sarana pendidikan meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, maupun yang disediakan dan digunakan dikelas dan dilaboratorium. Pada umumnya, guru menganggap bahwa siswa sudah melakukan praktikum dengan baik asal sudah menyerahkan laporan dengan lengkap. 5) Unsur hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus dicapai siswa melalui pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencapaian. Oleh karena itu hasil belajar merupakan produk yang harius ditingkatkan yang berkaitan dengan tindakan unsurlain. 6) Unsur lingkungan, baik lingkungan siswa dikelas, sekolah, maupun dirumah. Informasi tentang lingkungan ini dikaji bukan untuk campur tangan melainkan digunakan sebagai pertimbangan dan bahan untuk pembahasan. 7) Unsur pengelolaan, merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk tindakan. Contoh, cara dan waktu pengelompokan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk, penempatan papan tulis, penataan peralatan siswa, pengontrolan peralatan secara rutin dan sebagainya. Dalam referensi lain, dikemukakan bahwa Objek PTK harus merupakan sesuatu yang aktif, dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak, antara lain : a. Metode Mengajar b. Strategi Mengajar c. Model Pembelajaran d. Prosedur Evaluasi e. Perubahan Sikap Dan Nilai f. Media Pembelajaran g. Lingkungan Belajar (Setting) h. Materi Pembelajaran i. Kurikulum. C. Contoh Judul Penelitian Tindakan Kelas 1. Peningkatan Prestasi Belajar Maharoh Qira’ah Melalui Metode Sam’iyah Bashoriyah Siswa Kelas IV MI Shirotol Mustaqim Bojonegoro. 2. Penggunaan Metode Phonetic dalam Pengajaran Kosakata Bahasa Arab untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara terhadap Siswa Kelas VIII Mts At-Tanwir Sumberrejo Bojonegoro. 3. Upaya Peningkatan Kemampuan Siswa Memahami Kaidah Nahwu Melalui tadribaat pada Siswa Kelas X MA Al-Falah Kanorrejo Tuban. 4. Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Kosakata Bahasa Arab Melalui Penggunaan Media Lagu (VCD) di Kelas III SD IT Uswatun Hasanah Lamongan. 5. Peningkatan Keterampilan Siswa dalam Mengarang Karangan Berbahasa Arab Melalui Metode Mind Mapping terhadap Siswa kelas II Mualimin/Aliyah di Pesantren Nurul huda gresik . BAB III PENUTUP A. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Al Barry, Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola Budiono. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung Suwandi, Sarwiji. 2011. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) & Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Yuma Pustaka www.artikata.com Read More..

KINAYAH DALAM BALAGHAH

(KINAYAH DALAM ILMU BALAGHAH) الكناية هي لَفْظُ الَّذِي أُرِيْدَ بِهِ لَازِمُ مَعْنَاهُ مَعَ جَوَازِ إِرَادَةِ المَعْنَى الأَصْلِي. • Kinayah menurut bahasa adalah perkataan yang tidak jelas (qiyas). • sedangkan menurut istilah adalah suatu kalimat yang disampaikan namun yang dikehendaki dari kalimat itu adalah makna lain, bukan makna yang sebenarnya. Contoh: زَيْدٌ طَوِيْلُ النَّجَادِ Artinya: zaid itu panjang sarung goloknya Maksudnya: Zaid itu tinggi. Lazimnya: tinggi bentuknya. Setiap orang yang tinggi, biasanya goloknyapun panjang, setiap golok panjang, sarungnyapun panjang pula. Meskipun demikian, dapat di artikan artinya.  Sedangkan datangnya kinayah untuk 1. Menetukan sifat untuk mausuf Contoh: الكَرَمُ بَيْنَ بَرْدَيْهِ Artinya: Kemuliaan antara dua baju dinginnya. Maksudnya: Menetukan orang tertentu dengan keagungan dan kemuliaan. 2. Menentukan dzat mausuf Contoh: جَاءَ المِضْيَافُ Artinya: Telah datang tukang menjamu. Maksudnya: Zaid yang sering menjamu, sehingga seolah-olah hanya zaidlah yang tukang menjamu tamu. 3. Menentukan zat sifat Contoh: كَثِيْرُ الرَّمَادِ Artinya: kinayah bagi tukang menjamu tamu Contoh: طَوِيْلُ النَّجَادِ Artinya: kinayah bagi orang yang tinggi.  Tujuan kinayah 1. Menjelaskan Contoh: طَوِيْلُ النَّجَادِ Artinya: Bagi orang yang tinggi. 2. Mempersingkat Contoh: فُلَانٌ مَهْزُوْلُ الفَصِيْلِ Artinya: si fulan kurus anak sapinya Maksudnya: kinayah dari seringnya menyembelih induk sapi untuk menjamu, sampai anak sapinya kurus, kurang menyusu. 3. Menutupi nama orang Contoh: أَهْلُ الدَّارِ Aryinya: penghuni rumah. Maksudnya: kinayah dari istrinya. 4. Memelihara kesopanan dari kata-kata buruk Contoh: اَوْلمَسْتُمُ النِّسَاءَ  Pembagian kinayah: A. Kinayah dari Aspek makna. • Kinayah Shifah adalah pengungkapan sifat tertentu tidak dengan jelas, melainkan dengan isyarah atau ungkapan yang dapat menunjukkan maknanya yang umum. • Menurut Ahmad al-Hasyimi mempunyai dua jenis, yaitu: a. Kinayah Qaribah Adalah apabila perjalanan makna dari lapal yang dikinayahkan (makny’anhu) kepada lapal kinayah tanpa melalui dia atau perantara. Contoh : رَفِيْعُ العِمَادِ طَوِيْلُ النَّجَادِ b. Kinayah Ba’idah Adalah perpindahan makna dari makna pada lapal-lapal yang dikinayahkan (makny’anhu) kepada makna pada lapal-lapal kinayah memerlukan lapal-lapal lain untuk menjelaskannya. Contoh: كَثِيْرُ الرِّمَادِ • Kinayah Mausuf Kinayah yang tidak menghendaki suatu sifat dan tidak menghendaki nisbat, namun yang dikinayahkan adalah mausuf, artinnya yang disifati. Seperti lafadz: أَبْنَاءُ النِّيْلُ yang bermakna bangsa mesir . • Kinayah Nisbah Apabila lapal yang menjadi kinayah bukan merupakan sifat dan bukan pula mausuf, akan tetapi merupakan hubungan sifat kepada mausuf. Contoh : المَجْدُ بَيْنَ ثَوْبَيْكَ # وَالكَرَمُ مِلْءُ بُرْدَيْكَ Artinya : keagungan berada dikedua pakaianmu, dan kemulyaan itu memenuhi kedua baju burdahmu. B. Kinayah dari aspek Wasaith (media) menjadi empat macam yaitu: 1. Ta’ridh Yaitu perkataan yang tidak terang maksudnya seperti ucapan kepada orang yang menyakitkan: المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ “Seorang muslim yang sebenarnya adalah yang tidak mengganggu muslim lainya dengan lisan dan tangannya.” Contoh tersebut mengisyaratkan tiadanya sifat islam dari orang yang menyakiti. 2. Talwih Yaitu berisi isyarat kepada orang lain dari jauh. Contoh: وَمَايَكُ فِيَّ مِنْ عَيْبٍ فَاءِنِّي# جَبَانُ الكَلْبِ مَهْزُوْلُ الفَصِيْلِ “Tiada cacat bagiku karena sesungguhnya aku, adalah pengecut anjingnya dan kurus anak sapinya.” 3. Ramz Yaitu berisi isyarat kepada orang lain yang berjarak dekat. Contoh: فُلَانُ عَرِيْضُ القَفَا وَعَرِيْضُ الوِسَادَةْ “Si fulan itu lebar tengkuknya, atau lebar bantalnya, Contoh diatas sebagai sandaran tentang kebodohannya. 4. Iima’ atau al-Isyaroh Seperti ucapan penyair: فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أنفقَ فيهَا وهيَ خاويةٌ (الكهف : 43) “ Maka ia membolak-balikan kedua telapak tangannya terhadap apa yang ia infakkan, sedangkan telapak tangannya itu kosong “. DAFTAR PUSTAKA Akhdhori, Imam. 1985. Ilmu Balaghoh . Bandung: PT. Al-ma’arif. Al-Hakimi, Sayid Ahmad.1994. Mutiara Ilmu Balaghoh. Surabaya: Mutiara ilmu. Idris, Mardjoko. 2007. Ilmu Balaghah antara al-Bayan dan al-Badi’. Yogyakarta: Penerbit teras.
Read More..
Selasa, 06 Maret 2012

KEBIJAKAN-KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NASIONAL

2.1 Pengertian Pengembangan Perubahan Kebijakan Pendidikan Nasional.

Sebelum membicarakan berkenaan dengan kebijakan, terlebih dahulu kita mengetahui perbedaan antara kebijaksanaan dan kebijakan. Kebijaksanaan (police) adalah aturan-aturan yang semestinya dan harus didikuti tanpa pandang bulu, mengikat kepada siapapun yang dimaksud untuk diikat oleh kebijaksanaan tersebut. Sedangkan kebijakan (wisdom) adalah suatu ketentuan dari pimpinan yang berbeda dengan aturan yang ada, yang dikenakan kepada seseorang karena adanya alasan yang dapat diterima untuk tidak memberlakukan aturan yang berlaku.
<

Seirama dengan perjalanan sejarah bangsa dan Negara Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang. Maka sejarah kebijakan pendidikan Indonesia dapatlah diikuti sesuai dengan pembagian kurun 2 waktu yang ditandai dengan peristiwa- peristiwa penting dan tonggak- tonggak sejarah sebagai pengikat,menjadi:
1. Periode 1945- 1950
2. Periode 1950- 1959
3. Periode 1959- 1966
4. Periode 1966- sampai sekarang

2.2 Periode 1945-1950
Pada Periode ini walaupun dalam kurun waktu 1945- 1950 negara kita mengalami beberapa kali perubahan UUD, tetapi dasar falsafah Negara. Karena itulah Pancasila menjadi landasan Idiil pendidikan di Indonesia.
Pokok-pokok pendidikan dan pengajaran baru di Indonesia, tanggal 29 Desember 1945, yang diusulkan oleh KNIP kepada kementrian pendidikan, pengajaran dan kebudayaan:
a. Membimbing murid-murid menjadi warga Negara yang mempunyai rasa tanggung jawab untuk menyusun masyarakat baru.
b. Sekolah harus terbuka untuk tiap-tiap penduduk Negara laki-laki atau perempuan demi untuk mempersatukan rakyat.
c. Hendaknya menggunakan system sekolah kerja agar aktifitas rakyat kapada pekerjaan bisa berkembang seluas-luasnya.
d. Adanya pendidikan agama yang teratur dan seksama.
e. Diperbanyak pengajaran tinggi.
f. Kewajiban belajar paling lama 10 tahun.
g. Pengajaran ekonomi: pertanian, industri, pelayaran, dan perikanan mendapat perhatian istimewa. Begitu juga pengajaran kesehatan.
h. Untuk sekolah rendah tidak dipungut biaya. Untuk sekolah menengah dan perguruan tinggi diadakan aturan pembayaran.
2.3 Periode 1950-1959
Tidak banyak kebijakan pendidikan pada periode ini, namun semasa itu terjadilah peristiwa sejarah:
- Terbentuknya kembali NKRI sejak 17 Agustus 1950
- Diterimanya Indonesia sebagai anggota PBB ke-60
Keaktifan Indonesia dalam peraturan di dunia Internasional, menjadikan Indonesia mulai aktif dalam pikiran pendidikan.
Pemberlakuan tegas terhadap UUD 1945 pasal 31 ayat 1:
a. Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran.
b. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan Undang-undang. Adapun sistem yang digunakan adalah susunan dengan baik sekolah negeri maupun swasta. Sekolah rakyat 6 tahun, SLTP 3 tahun, SLTA 3 tahun. Didirikan pula PTPG ( Pendidikan Tinggi Pendidikan Guru ), di Bandung mempersiapkan guru sekolah rakyat / dasar. Didirikan pula PGSLTP ( Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama ) satu tahun. Hal- hal diatas merupakan kebijakan upaya pemerintah dalam bidang pendidikan dan pengajaran demi meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam kebijakan peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan, biaya sangat memegang peranan pula demi keberhasilannya. Maka dikeluarkannya peraturan pemerintah Nomor 65 tahun 1955, dimana penyelenggaraan SD merupakan kewajiban pemerintah Daerah Tingkat I ( Propinsi ) namun akhirnya biaya tersebut diserahkan / dibebankan kepada orangtua murid dengan bantuan pemerintah Daerah Tingkat II ( Kabupaten ) sampai tahun 1955. SD dibiayai oleh kementrian dalam negeri, sedangkan sekolah lanjutan dan pendidikan tinggi dibayar oleh kementrian pendidikan, pengajaran dan budaya.


2.4 Periode 1959- 1966
Kebijaksanaan pendidikan yang terkenal pada waktu itu, yaitu “Saptalisaha tama dan pancawardhana“ tertuang dalam instruksi menteri PP dan K Nomor I tahun 1959, adapun isinya:
1. Penertiban aparatur dan usaha- usaha kementerian PP dan K
2. Menggiatkan kesenian dan olahraga
3. Mengharuskan “ usaha halaman “
4. Mengharuskan penabungan
5. Mewajibkan usaha koperasi
6. Mengadakan “ kelas masyarakat “
7. Membentuk “ Regu Kerja “ dikalangan SLTA danUniversitas

Berdasarkan pada ketetapan MPRS tahun 1966 dan ketetapan MPR tahun 1973, 1978, 1983 banyaklah kebijakan- kebijakan pendidikan yang telah dikeluarkan yang berwujud sebagai undang-undang peraturan pemerintah, keputusan keputusan,surat edaran kurikulum, metode, dan sebagainya demi mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan dalam TAP-TAP tersebut.
Bertolak pula dari Undang-Undang 1945, khususnya pasal 31 ayat (1) dan (2) serta tanggapan dan jawaban terhadap masalah-masalah pokok pendidikan yang dihadapi, yaitu:
a. Masalah pemerataan pendidikan
b. Masalah peningkatan mutu pendidikan
c. Masalah efektifitas dan efesiensi pendidikan
d. Masalah relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional
2.5 Sistem Dasar Pendidikan Nasional
Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan nasional,pendidikan nasional masing-masing bangsa berdasarkan pada dan dijiwai oleh kebudayaanya. Kebudayaan tersebut sarat dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang melalui sejarah sehingga mewarnai seluruh gerak hidup suatu bangsa.
Sistem pendidikan nasional Indonesia disusun berlandaskan kepada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasar pancasila dan UUD 1945 sebagai kristlisasi nilai-nilai hidup bangsa Indonesia. Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional dilaksanakan bentuk-bentuk kelembagaan beserta program-programnya. Dan saling berkaitan dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional.

2.6 Kelembagaan Pendidikan
Pendidikan nasional dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar.
Berdasarkan UU RI No.2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional kelembagaan pendidikan dan program serta pengelolaan pendidikan.
a. Jalur pendidikan :
1. Jalur pendidikan sekolah :
Kegiatan belajar mengajar secara berjenjang ( pendidikan dasar menengah tingggi ) sifatnya formal, diatur berdasarkan ketentuan pemerintah, dan mempunyai keseragaman pola yang bersifat nasional.
2. Jalur pendidikan luar sekolah:
Kegiatan ini merupakan pendidikan yang bersifat kemasyarakatan yang diselanggarakan di luar sekolah, seperti: Kepramukaan kesenian, ketrampilan dll, yang dapat dimanfaatkan oleh anggota masyarakat untuk mengembangkan dirinya.

b. Jenjang pendidikan
suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran ( UURI No 2 tahun 1989 bab I, pasal 1 ayat 5 ) jalur jenjang pendidkan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi merupakan tahap dalam pendidikan berkelanjutan.

2.7 Program dan Pengelolaan Pendidikan
a. Jenis program pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususannya (UU RI No. 2 Tahun 1989 Bab 1 pasal 1 ayat 4 no. 2 tahun 1989). Program pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, kejuruan, dan pendidikan lainya.

b. Kurikulum Program Pendidikan
Konsep sistem pendidikan Nasional direalisir melalui kurikulum. Kurikulum memberi bekal pengetahuan,sikap,dan ketrampilan kepada peserta didik.Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Yunani kuno berarti “pelari” dan curere artinya “tempat berpacu”. Kurikulum kemudian diartikan “jarak yang harus ditempuh oleh pelari,sedangkan dalam pendidikan kurikulum di analogikan sebagai arena tempat peserta didik “berlari” untuk mencapai “finis” berupa ijazah,diploma atau gelar.
Dalam hubungan dengan pembangunan nasional ,kurikulum pendidikan nasional mengisi upaya pembentukan sumber daya manusia untuk pembangunan.









2.8 Fungsi danTujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan Nasional dinyatakan di dalam UU RI No. 2 tahun 1989 pasal , yaitu:
a. Terwujudnya bangsa yang cerdas
b. Manusia yang utuh,beriman,dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
c. Berbudi pekerti luhur
d. Terampil dan berpengetahuan
e. Sehat jasmani dan rohani
f. Berkepribadian yang mantap dan mandiri
g. Bertanggung jawab pada kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kurikulum menjembatani tujuan dengan praktek pengalaman belajar riil di lapangan atau sekolah.
Selain itu terdapat beberapa dasar dan tujuan pendidikan di Indonesia, tindakan jangka pendek dalam lingkungan kementerian PP&K yang disebut “Sapta Usaha Tama”yang meliputi:
1. Penertiban aparatur dan usaha-usaha Kementerian PP&K.
2. Menggiatkan kesenian dan olah-raga.
3. Mengharuskan usaha halaman.
4. Mengharuskan penabungan.
5. Mengharuskan usaha-usaha koperasi.
6. Mengadakan kelas masyarakat.
7. Membentuk regu-kerja di kalangan SLA dan Universitas.







2.9 Visi dan misi dalam kebijakan pendidikan
Saat ini kita telah memiliki perangkat perundang-undangan yang cukup baik, dan bisa dijadikan acuan dasar bagi peningkatan mutu pendidikan nasional, di antaranya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bahkan, kita juga sudah memiliki payung hukum untuk meningkatkan profesionalisme, kompetensi serta kesejahteraan para pendidik kita, yakni UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Untuk mewujudkan apa yang digariskan dan diamanatkan dalam berbagai perangkat peraturan tersebut, kita memerlukan strategi dan perencanaan yang matang dan didasarkan pada analisis yang benar-benar obyektif terhdap kondisi pendidikan kita saat ini. Salah satu yang diupayakan Pemerintah adalah dengan memperbarui Rencana Strategis (Renstra) Pendidikan Nasional, yang diharapkan bisa menjadi rujukan pelaksanaan program-program pendidikan dalam beberapa tahun mendatang. Muaranya adalah pada pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan.
Renstra Pendidikan Nasional Tahun 2006 dilandaskan pada visi: “terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”. Adapun misi yang dilakukan untuk merealisasikan visi tersebut adalah:
• mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
• membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
• meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
• meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan
• memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.
2.10 Kebijaksanaan pendidikan di masa depan
Pertama, globalisasi ekonomi harus ditingkatkan, karena dapat melakukan investasi besar dibidang pendidikan, yang akan menjadi yang paling kompentitif.
Kedua, perkembangan IPTEK meliputi bidang bioteknologi, teknologi bahan, mikro elektronika dan informatika.
Ketiga, di bidang demografi, agar dapat mengeksplorasi dan bahkan mengolah bahan-bahan mentah menjadi barang jadi, sangat dibutuhkan kemampuan sumber daya manusia yang dihasilkan melalui lembaga pendidikan.

















BAB III
KESIMPULAN

Pendidikan Nasional di Indonesia begitu komplit, namun masih saja ada kendala - kendala yang muncul. Dengan perubahan beberapa kebijakan – kebijakan dari zaman orde lama hingga orde baru. Hal demikian merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya. Pendidikan merupakan hak setiap warga Negara. Tetapi kurangnya pemerataan pendidikan menjadikan pendidikan kurang berkesinambungan untuk kalangan tengah ke bawah. Seharusnya pemerintah lebih mengupayakan tentang hal ini.























DAFTAR PUSTAKA

Indrakusuma, Amir Daien,Drs.Pengantar Ilmu Pendidikan ;Usaha Nasional,Surabaya
Gunawan, Ary H., Drs. Kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia ;Bina Aksara, Jakarta,1986
Gunawan, Ary H., Drs. Kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia ;Rineka Cipta, Jakarta.1945
La Sulo dan Umar Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan ;Rineka Cipta, Jakarta, 2005
Imron, Aly, Drs. MPd. Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia: Bumi Aksara, Jakarta, 2008


Read More..
Kamis, 23 Februari 2012

MAKALAH Jenis-Jenis Karangan ( Insya’)

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Dalam manulis sebuah karangan atau cerita tentunya selalu dijumpai susunan dari banyak kata yang membentuk kalimat. Kalimat-kalimat tersebut harus dihubungkan lagi sehingga terbentuk sebuah paragraf. Menyusun paragraf berarti menyampaikan suatu gagasan atau pendapat tertentu yang harus disertai alasan ataupun bukti tertentu.
Menyusun suatu paragraf yang baik harus memperhatikan beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah ide pokok yang akan dikemukakan harus jelas, semua kalimat yang mendukung paragraf itu secara bersama-sama mendukung satu ide, terdapat kekompakan hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain yang membentuk alinea, dan kalimat harus tersusun secara efektif (kalimat disusun dengan menggunakan kalimat efektif sesuai ide bisa disampaikan dengan tepat).



Jenis-jenis karangan ini terdiri dari 5 macam yaitu: (1)Eksposisi, (2)Narasi, (3)Surat, (4)Argumentasi, (5)Imajinasi. Dan dalam setiap jenis karangan mempunyai pola pengembangan tersendiri, yaitu: (1) Dalam karangan eksposisi, masalah yang dikomunikasikan terutama adalah pemberitahuan atau informasi hasil karangan eksposisi yang berupa informasi dapat kita baca sehari-hari di dalam media masa. melalui media masa berita di ekspose atau dipaparkan dengan tujuan memperluas pandangan dan pengetahuan pembaca. Pembaca tidak dipaksa untuk menerima pendapay penulis, tetapi setiap pembaca sekedar diberi tahu bahwa ada seseorang yang berpendapat demikian. Mengingat karangannya bersifat memaparkan sesuatu, eksposisi juga dapat disebut karangan paparan. (2) Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraph dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. (3) Surat adalah suatu sarana komunikasi yang umumnya tertulis, sebagai sarana komunikasi tertulis. (4)Argumentasi adalah paragraph yang berisi gagasan, pikiran atau pendapat yang membahas suatu masalah dengan tujuan untuk meyakinkan pembaca yang disertai dengan argument-argumen yang disajikan secara logis dan objektif. Paragraf ini umumnya dipakai dalam karangan ilmiah. (5) Imajinasi secara umum adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian.


Oleh karena itu, untuk lebih memahami bagaimana menyusun sebuah paragraf yang benar dan mengetahui berbagai macam jenis paragraf, maka makalah ini disusun agar bisa menambah pengetahuan para pembaca tentang penggunaan paragraf yang baik.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian paragraf eksposisi, narasi, surat, argumentasi, dan imjinasi?
2. Bagaimana langkah-langkah penulisan paragraf eksposisi, narasi, surat,
argumentasi, dan imajinasi?
3. Apa ciri-ciri setiap paragraf eksposisi, narasi, surat, argumentasi dan
imajinasi?
1.3. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian dan tujuan dari paragraph.
2. Mengtahui pembagian-pembagian dari beberapa jenis paragraph.
3. Mengetahui ciri-ciri dari setiap paragraph.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Eksposisi

Kata eksposisi dipungut dari kata eksposition sebenarnya berasal dari bahasa latin yang berarti “membuka dan memulai”. Memang karangan eksposisi merupakan wacana yang bertujuan untuk memberi tahu, mengupas, menguraikan, dan menerangkan sesuatu.
Dalam karangan eksposisi, masalah yang dikomunikasikan terutama adalah pemberitahuan atau informasi.hasil karangan eksposisi yang berupa informasi dapat kit abaca sehari-hari di dalam media masa.melalui media masa berita di ekspose atau dipaparkan dengan tujuan memperluas pandangan dan pengetahuan pembaca. Pembaca tidak dipaksa untuk menerima pendapay penulis, tetapi setiap pembaca sekedar diberi tahu bahwa ada seseorang yang berpendapat demikian. Mengingat karangannya bersifat memaparkan sesuatu, eksposisi juga dapat disebut karangan paparan.
Langkah-langkah penulisan:
• Menentukan tema
• Menentukan tujuan karangan
• Memilih data yang sesuai dengan tema
• Membuat kerangka karangan
• Mengembangkan kerangka menjadi karangan
Langkah-langkah Menyusun Paragraf Proses Pola pengembangan karangan eksposisi bisa bermacam-macam, di antaranya pola pengembangan proses. Paragraf proses itu menyangkut jawaban atas pertanyaan bagaimana bekerjanya, bagaimana mengerjakan hal itu (membuat hal ini), bagaimana barang itu disusun, bagaimana hal itu terjadi. Berikut langkah penulisannya :
• Penulis harus mengetahui perincian secara menyeluruh.
 Membagi perincian atas tahaptahap kejadiannya. Bila tahaptahap kejadian ini berlangsung dalam waktu yang berlainan, penulis harus memisahkan dan mengurutkannya secara kronologis.

2. Narasi
Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraph dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Atau paragraf yang didalamnya menuturkan rangkaian peristiwa atau keadaan yang dikaitkan dengan kurun waktu tertentu dalam bentuk penceritaan. Bentuk paragraf ini umumnya digunakan dalam karangan berbentuk riwayat hidup, novel, cerpen, dan roman. Karangan narasi memiliki dua macam sifat, yaitu:

a.Narasi Ekspositoris/ Narasi Faktual
Yaitu narasi yang hanya bertujuan untuk member informasi kepada pembaca agar pengetahuannya bertambah luas.contoh narasi ekspositoris seperti kisah perjalanan, kisah perampokan, dan cerita tentang peristiwa pembunuhan.

b.Narasi sugestif/ Narasi berplot
Yaitu Narasi yang mampu menimbulkan daya khayal pembaca, mampu menyampaikan makna kepada pembaca melalui daya khayal.contohnya novel dan cerpen.
Ciri-ciri karangan narasi:
- Berupa cerita tentang peristiwa atau pengalaman penulis
- Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
- Memiliki nilai estetika.
- Menekankan susunan secara kronologis.
Tujuan menulis karangan Narasi:
- Hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan.
- Memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.
Langkah-langkah menulis karangan Narasi :
- Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
- Tetapkan sasaran pembaca.
- Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
- Bagi peristiwa utama itu kedalam bagian awal, perkembangan dan akhir cerita.
- Perincian peristiwa-peristiwa utama kedalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
- Susun tokoh dan perwatakan, latar, sudut pandang.

3.Surat
Surat adalah suatu sarana komunikasi yang umumnya tertulis, sebagai sarana komunikasi tertulis, surat paling tidak melibatkan dua pihak, yaitu pihak pertama pengirim surat dan pihak kedua penerima surat.surat dapat juga dipandang sebagai wakil dari penulisnya, oleh karena itu segala sesuatu yang di tulis didalam surat tersebut dapat dinilai sebagai cermin pribadi organisasi, atau instansi. Atas dasar itu, surat sebaiknya dibuat semenarik mungkin, baik dari segi bentuk maupun isinya, agar pribadi penulis atau instansi pengirimnya memperoleh citra yang baik.
a. Fungsi Surat.
Surat sebagai utusan atau wakil penulis/instansi pengirimnya.
Surat sebagai bukti tertulis
Surat sebagai alat pengingat karena dapat diarsipkan dan dilihat kembali bila diperlukan.
Surat sebagai bukti sejarah, misalnya surat-surat yang memuat perubahan atau perkembangan suatu organisasi/ perusahaan.
Surat sebagai pedoman kerja, misalnya surat keputusan
Surat sebagai jaminan keamanan, misalnya surat jalan.
b. Tujuan surat.
Setiap orang, badan usaha, atau instansi pasti mempunyai tujuan tertentu dalam berkirim surat. Tujuan pengiriman surat itu ada berbagai macam sesuai dengan maksud pengirimnya. Sebagai contoh, dapat disebutkan bahwa tujuan pengiriman surat ,antara lain, untuk memberitahukan suatu hal, atau melamar pekerjaan.






Contoh surat pernyataan :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أنا متجاوزة قسم محركة اللغة الكبرى
اسم : ستى ميمونة
الفصل : الأول التكثيفي
قنصولية : جاكرتا
الخطأ : ما استعملت اللغتين و هما اللغة العربية و اللغة الإنجليزية
ووعدت علي نفسي ان لا أعيد لمرةٍ عديدة و إذا أعيد مرة أخري، أستعيد لنيل العقاب أشدّ.
ربّما كفيت هنا الرسالة ان وجدتم منّي الخطاءت ارجو منكم العفو

و السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


الإمضاء المتجاوزة


(محركة اللغة) (ستى ميمونة)


4.Argumentasi
Yakni paragraf yang berisi gagasan, pikiran atau pendapat yang membahas suatu masalah dengan tujuan untuk meyakinkan pembaca yang disertai dengan argument-argumen yang disajikan secara logis dan objektif. Paragraf ini umumnya dipakai dalam karangan ilmiah.

Langkah-langkah dalam menulis karangan argumentatif :
• Menentukan topik.
Kata topic berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti wilayah atau tempat topic itu sendiri dapat dicari dari sumber-sumber topic, seperti pengalaman, pengamatan, pengetahuan, pendapat, dan daya khayal.
Syarat topik argumentatif:
a. Berhubungan dengan pengetahuan kita.
b. Menarik dan sesuai minat.
c. Ruang lingkupnya tidak terlalu luas.
d. Memiliki data dan fakta Objektif.
e. Memiliki sumber acuan.
• Merumuskan Tema.
a. dirumuskan dengan kalimat yang jelas.
b. Adanya kesatuan gagasan sentral yang menjadi landasan seluruh karangan.
c. Pengembangan tema yang terarah
d. Orisinil.

• Menyusun Kerangka.
Fungsi :
a. Memudahkan Penyusunan Karangan.
b. Memudahkan penempatan bagian.
c. Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
d. Membantu pengumpulan data.

Dalam penyusunan karangan ada beberapa syarat yaitu:
a. Mengungkapkan maksud yang jelas.
b. Tiap bagian hanya mengandung satu gagasan.
c. Disusun secara logis dan sistematis.
d. Memerlukan penggunaan symbol yang konsisten.
• Mengumpulkan data.
Pengumpulan data fakta dapat dilakukan di perpustakaan untuk memperoleh pendapat-pendapat dari para ahli yang terdapat di dalam buku.

• Mengembangkan kerangka menjadi paragraph.
Langkah terakhir adalah mengembangkan kerangka menjadi paragraf dengan didukung data dan fakta yang sudah diperoleh.

5.Imajinasi
Imajinasi secara umum adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian. Sejak penggunaan istilah ini bertentangan dengan yang dipunyai bahasa biasa, beberapa psikolog lebih menyebut proses ini sebagai “menggambarkan” atau “gambaran” atau sebagai suatu reproduksi yang bertentangan dengan imajinasi “produktif” atau konstruktif”
Gambaran citra dimengerti sebagai sesuatu yang dilihat oleh "mata pikiran". Suatu hipotesis untuk evolusi imajinasi manusia ialah bahwa hal itu memperbolehkan setiap makhluk yang sadar untuk memecahkan masalah (dan oleh karena itu meningkatkan fitnes) perseorangan oleh penggunaan simulasi jiwa.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

1. Eksposisi yaitu paragraph yang di dalamnya memaparkan suatu fakta atau kejadian tertentu dengan harapan dapat memperluas wawasan atau pengetahuan pembaca. Bentuk paragraph ini biasanya dipakai untuk memaparkan cara membuat sesuatu, cara menggunakan sesuatu, cara kerja sebuah mesin, cara mengkonsumsi obat dan sebagainya.
Langkah-langkah penulisan:
• Menentukan tema
• Menentukan tujuan karangan
• Memilih data yang sesuai dengan tema
• Membuat kerangka karangan
• Mengembangkan kerangka menjadi karangan

2. Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraph dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Atau paragraf yang didalamnya menuturkan rangkaian peristiwa atau keadaan yang dikaitkan dengan kurun waktu tertentu dalam bentuk penceritaan.

. Karangan narasi memiliki dua macam sifat, yaitu:
Narasi Ekspositoris/ Narasi Faktual
Narasi sugestif/ Narasi berplot

3. Surat adalah suatu sarana komunikasi yang umumnya tertulis, sebagai sarana komunikasi tertulis, surat paling tidak melibatkan dua pihak.

4. Argumentasi Yakni paragraph yang berisi gagasan, pikiran atau pendapat yang membahas suatu masalah dengan tujuan untuk meyakinkan pembaca yang disertai dengan argument-argumen yang disajikan secara logis dan objektif.

Syarat topik argumentatif:
f. Berhubungan dengan pengetahuan kita.
g. Menarik dan sesuai minat.
h. Ruang lingkupnya tidak terlalu luas.
i. Memiliki data dan fakta Objektif.
j. Memiliki sumber acuan.

5. Imajinasi secara umum adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan
ide




DAFTAR PUSTAKA

Makruf imam, 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Aktif. Semarang:Need’s press
Finoza Lamiddin, 2007. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta; Diksi Intan Mulia
Zubed m, 2009. Al-qur’an Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia ,Malang, Uin Press
Soedjito, 2004, Surat Menyurat Resmi Bahasa Indonesia,PT Remaja Rosda Karya
Guntur Hendri, 2008, Menulis Sebagai Ketrampilan Berbahasa , Bandung: Percetakan Angkasa
Mustakim, 1994, Membina Kemampuan Berbahasa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Read More..

About Me

Blog Archive

Category

Pengikut