(KINAYAH DALAM ILMU BALAGHAH)
الكناية هي لَفْظُ الَّذِي أُرِيْدَ بِهِ لَازِمُ مَعْنَاهُ مَعَ جَوَازِ إِرَادَةِ المَعْنَى الأَصْلِي.
• Kinayah menurut bahasa adalah perkataan yang tidak jelas (qiyas).
• sedangkan menurut istilah adalah suatu kalimat yang disampaikan namun yang dikehendaki dari kalimat itu adalah makna lain, bukan makna yang sebenarnya.
Contoh: زَيْدٌ طَوِيْلُ النَّجَادِ
Artinya: zaid itu panjang sarung goloknya
Maksudnya: Zaid itu tinggi. Lazimnya: tinggi bentuknya. Setiap orang yang tinggi, biasanya goloknyapun panjang, setiap golok panjang, sarungnyapun panjang pula. Meskipun demikian, dapat di artikan artinya.
Sedangkan datangnya kinayah untuk
1. Menetukan sifat untuk mausuf
Contoh: الكَرَمُ بَيْنَ بَرْدَيْهِ
Artinya: Kemuliaan antara dua baju dinginnya.
Maksudnya: Menetukan orang tertentu dengan keagungan dan kemuliaan.
2. Menentukan dzat mausuf
Contoh: جَاءَ المِضْيَافُ
Artinya: Telah datang tukang menjamu.
Maksudnya: Zaid yang sering menjamu, sehingga seolah-olah hanya zaidlah yang tukang menjamu tamu.
3. Menentukan zat sifat
Contoh: كَثِيْرُ الرَّمَادِ
Artinya: kinayah bagi tukang menjamu tamu
Contoh: طَوِيْلُ النَّجَادِ
Artinya: kinayah bagi orang yang tinggi.
Tujuan kinayah
1. Menjelaskan
Contoh: طَوِيْلُ النَّجَادِ
Artinya: Bagi orang yang tinggi.
2. Mempersingkat
Contoh: فُلَانٌ مَهْزُوْلُ الفَصِيْلِ
Artinya: si fulan kurus anak sapinya
Maksudnya: kinayah dari seringnya menyembelih induk sapi untuk menjamu, sampai anak sapinya kurus, kurang menyusu.
3. Menutupi nama orang
Contoh: أَهْلُ الدَّارِ
Aryinya: penghuni rumah.
Maksudnya: kinayah dari istrinya.
4. Memelihara kesopanan dari kata-kata buruk
Contoh: اَوْلمَسْتُمُ النِّسَاءَ
Pembagian kinayah:
A. Kinayah dari Aspek makna.
• Kinayah Shifah adalah pengungkapan sifat tertentu tidak dengan jelas, melainkan dengan isyarah atau ungkapan yang dapat menunjukkan maknanya yang umum.
• Menurut Ahmad al-Hasyimi mempunyai dua jenis, yaitu:
a. Kinayah Qaribah
Adalah apabila perjalanan makna dari lapal yang dikinayahkan (makny’anhu) kepada lapal kinayah tanpa melalui dia atau perantara.
Contoh : رَفِيْعُ العِمَادِ طَوِيْلُ النَّجَادِ
b. Kinayah Ba’idah
Adalah perpindahan makna dari makna pada lapal-lapal yang dikinayahkan (makny’anhu) kepada makna pada lapal-lapal kinayah memerlukan lapal-lapal lain untuk menjelaskannya.
Contoh: كَثِيْرُ الرِّمَادِ
• Kinayah Mausuf
Kinayah yang tidak menghendaki suatu sifat dan tidak menghendaki nisbat, namun yang dikinayahkan adalah mausuf, artinnya yang disifati.
Seperti lafadz: أَبْنَاءُ النِّيْلُ yang bermakna bangsa mesir .
• Kinayah Nisbah
Apabila lapal yang menjadi kinayah bukan merupakan sifat dan bukan pula mausuf, akan tetapi merupakan hubungan sifat kepada mausuf.
Contoh : المَجْدُ بَيْنَ ثَوْبَيْكَ # وَالكَرَمُ مِلْءُ بُرْدَيْكَ
Artinya : keagungan berada dikedua pakaianmu, dan kemulyaan itu memenuhi kedua baju burdahmu.
B. Kinayah dari aspek Wasaith (media) menjadi empat macam yaitu:
1. Ta’ridh
Yaitu perkataan yang tidak terang maksudnya seperti ucapan kepada orang yang menyakitkan: المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim yang sebenarnya adalah yang tidak mengganggu muslim lainya dengan lisan dan tangannya.”
Contoh tersebut mengisyaratkan tiadanya sifat islam dari orang yang menyakiti.
2. Talwih
Yaitu berisi isyarat kepada orang lain dari jauh.
Contoh: وَمَايَكُ فِيَّ مِنْ عَيْبٍ فَاءِنِّي# جَبَانُ الكَلْبِ مَهْزُوْلُ الفَصِيْلِ
“Tiada cacat bagiku karena sesungguhnya aku, adalah pengecut anjingnya dan kurus anak sapinya.”
3. Ramz
Yaitu berisi isyarat kepada orang lain yang berjarak dekat.
Contoh: فُلَانُ عَرِيْضُ القَفَا وَعَرِيْضُ الوِسَادَةْ
“Si fulan itu lebar tengkuknya, atau lebar bantalnya,
Contoh diatas sebagai sandaran tentang kebodohannya.
4. Iima’ atau al-Isyaroh
Seperti ucapan penyair: فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أنفقَ فيهَا وهيَ خاويةٌ (الكهف : 43)
“ Maka ia membolak-balikan kedua telapak tangannya terhadap apa yang ia infakkan, sedangkan telapak tangannya itu kosong “.
DAFTAR PUSTAKA
Akhdhori, Imam. 1985. Ilmu Balaghoh . Bandung: PT. Al-ma’arif.
Al-Hakimi, Sayid Ahmad.1994. Mutiara Ilmu Balaghoh. Surabaya: Mutiara ilmu.
Idris, Mardjoko. 2007. Ilmu Balaghah antara al-Bayan dan al-Badi’. Yogyakarta: Penerbit teras.
0 komentar:
Posting Komentar